Jumat, 26 Desember 2014


═════════╔██████╗
═════════║█¤██¤█║
═════════║██████║
═════════║█¤██¤█║
═════════║██████║
═════════║█¤██¤█║
═════════╚║║║║║║╝
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║
══════════║████║
══════════║║║║║║═══█
══════════║████║═══██
═█════════║║║║║║═══███
═██═══════║████║══██¤██
══███═════║║║║║║═██¤███
═══████═══║████║██¤███
════█████═║║║║║║█████
═════█████║████║████
════██████║║║║║║█████
══████████║████║███████
═█████████║║║║║║█████████
█████¤████║████║████¤█████
██████¤███║║║║║║███¤██████
████¤█████║████║█████¤████
═█████████║║║║║║█████████
═══████████████████████
═══════██═█═█═█═█═██

Minggu, 10 Agustus 2014

Lirik lagu: Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah) (Feat. Gita Gutawa)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

La la laa
La la la laa la

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Selasa, 05 Agustus 2014

Manchester United vs Liverpool 3-1 All Goals & Highlights (HD) Final Int...

Istri yang berhati Malaikat



Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta
kita???
Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk imenjaga cinta
kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
Pernikahan kami sederhana namun meriah…..
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh,
pintar, tampan & mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika
kami berpacaran dulu..
Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke
tanah suci….
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat
memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa
sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang
serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku
memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat
tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami
hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum
bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di
tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya,
jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus
generasi baginya. Alhamdulillah saat itu suamiku
mendukungku,
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk
menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu
dan adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat
perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun
aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku,
didepan suamiku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi
dibelakang suamiku, aku dihina-hina oleh mereka…
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami,
suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur.
Alhamdulillah suamiku selamat dari maut yang hampir
membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri
setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang dan
malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku
sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku
melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus
suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari
rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-
adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga..
aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab
mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa
menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku
menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku
tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan,
“Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salamku. Aku
berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua
melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia
kangen padaku karena sudah 5 hari matanya selalu
tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk
memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya,
kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia
pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun
penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya
pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia
sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya
aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung
berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di
dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka
bicarakan.
Aku sibuk membersihkan dan mengobati luka-luka di
kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan
mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian
mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan
suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun
menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau
pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau
istirahat saja. ”
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan
suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat
dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat
dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan
berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku
datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang
sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku
mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku
selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya Salah ataupun
Tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku
pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan
air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk
suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku
hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis
mengapa mereka sangat membenciku.
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku
aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan
yang lain, pagi itu, pada saat aku membersihkan
pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman
belakang, ia baru saja selesai sarapan, ia mengajakku
duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan
yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di
Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah
mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu
sudah memeegang tiket bukan?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku
disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan
keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang
dengan mamaku”, jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu
saja kamu disana?“, tanyaku balik kepadanya penuh
dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia
baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal
aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat
untuknya.
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”,
jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti
kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjutnya lagi
sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih
dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada
nya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan
rasa sayang dan cintanya walau terkadang ia bersikap
kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama
Suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya
karena mereka cemburu padaku karena Suamiku sangat
sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami
juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah
tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh
keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun
tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang
ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat
senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil
membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang,
ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku,
lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak
merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak
tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis
karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami
selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak
memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah
teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi
kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini,
perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka.
Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu
menelponku.
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak
nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai
kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu
kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami
memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit
sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa
sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami
pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-
lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter
memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium tiga.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang
yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku..
namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan
kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang
dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak
tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia
selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan
menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah
terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tentang hal ini dan aku juga tak
mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang,
aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku
pulang, hari demi hari aku hitung…
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku
sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi
menandakan ada sms yang masuk, kubuka di inbox
ponselku, ternyata dari suamiku yang sms. Ia menulis,
“aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu
hari lagi, aku akan kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi
aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku
tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan
memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku
pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan
masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun
mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya
kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk
untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua
kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam
rumah kami.
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya
tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam
dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan
tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera
merapikan bawaannya sampai aku pun tertidur. Malam
menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat
mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasanya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya
tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku
hanya mengelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu
aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku
melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap
untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar.
Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke
bawah tanpa memperdulikan darah yang bercecer dari
rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa
dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa
terhadapku? Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku
mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung
menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang
mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa
yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia
menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung
terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan.
Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota
kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku,
apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia
telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu
diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan
mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg
keras. Suamiku telah berubah..
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya
berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku
menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu,
tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang
suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman
yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku
menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami
seperti orang asing yang baru saja berkenalan, kemesraan
yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya
tetap seperti itu, aku tetap merawatnya dan menyiapkan
segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan
dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal
obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna,
harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu
kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari
aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu
meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku.
Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan,
sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku
bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri.
Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai,
suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama
kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja
menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi
kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang
akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena
suamiku kini tak ku kenal lagi.
Lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia
menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu
hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami,
sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku
menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku
berontak berteriak, tapi aku tak bisa.
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong
dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia
bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan
kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara
dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..
—————————————-
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah
karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir.
Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk
ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak
betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar
bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin
memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat
pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku
lahir, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku
memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah,
aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah
rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman
peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku
menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani
bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua
dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara
dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas,
dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan
keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak
melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab
selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk
dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari
dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak
yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya
menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat
lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku
yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah
berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan
pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air
matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan
semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang
terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat
menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau
dimadu atau diceraikan?“
Masya Allah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan.
Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku.
Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku
yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira aku sangat
bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku
untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan
yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku,
tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah.
‘’Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan
menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami..”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku
dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku
dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun
menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang
akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara,
”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya
siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di
rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke
kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi
untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan
sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung
duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri
disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah
dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing
selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku
bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah
aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari
rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak
cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah
botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang
datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini,
aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima
kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku
tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya
kan?.”
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak
sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku
rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai
shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia
sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah
malam, kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung
mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya.
Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini
mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu,
yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan
cintanya itu..
————————————————————–
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis
curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat
suamiku, aku marah pada suamiku yang telah
menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang
sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku
sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu
Suamiku.”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak
sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku
melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa
melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu
suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya
masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa
ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana
kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke
dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya
sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah
itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku
meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku
menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan
mata yang berbinar-binar…
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”,
pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah
mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah
ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan
menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk
karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita lihat saja nanti ya!”.
Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang
paling kuat yang ayah temui selain mama”..
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung
memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan
segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah
berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian
kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah?
Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah
tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal
kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya,
setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika
yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan
berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud
di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku
minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya
kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada
yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-
baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu
kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku
hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah.
Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu
menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
————————————————
Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk
diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan
perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak
mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan
kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul
tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas
panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku.. Dalam
hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku
kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding
dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu
iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat
aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum,
tapi dibalik itu.. hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah
begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran
dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan
pernikahan ini?
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga
suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku
akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui.
Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam
sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar
untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip
suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat.
Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia
ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil
menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang
tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu.
Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat
lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu,
kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke
Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga
adik-adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia
langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia
memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama
ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh
malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini,
karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi..
masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan
kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun
ini..
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku
rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu
lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.”
Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ”Bun, Ayah minta maaf telah
menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah
dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda
seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan
satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan
pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat
“seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip
(“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda
tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur
dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah
dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu
memanjakan bunda..”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada
kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan
keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya
aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah..
Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus
hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku
memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan
darimu waktu itu Yah.. Jika aku hanya mengejar hartamu,
aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita
mencintaimu..“
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena
sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku
menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha
memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan
rasa benci.
———————————————–
Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu,
kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami
pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung
menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh
dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan,
”Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia
tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin
pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda,
anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda
sayang banget sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin
keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat
lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang
tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat
dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari
kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam
kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu.
Ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama
merestui hubungan kami.
Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa
engkau punya buktinya Ma?
Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma?
Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk
durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang
kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci
diriku.. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku
menantumu kau bersikap sebaliknya..”
—————————————————
Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah..
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada
dirimu?
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku
menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut
dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat
manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat
menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah ?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku
tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan
mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti
membela Desi dan
ibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi..
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-
manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus
menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui, tapi aku
tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
Aku harus sadar diri.
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu..
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela..
Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya
tersenyum untukku. Aku ingin sekali merasakan kasih
sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.
”Ayah.. aku kangen Ayah..”
=============================================
========
’’Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di
Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang
berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang
sakit tertusuk duri.’’
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur..
Bunda akan selalu hidup dihati ayah..
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah
membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di
creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun,
kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam
kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin Ayah
masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang
halus..
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan
bunda..
Bunda.. kamu wanita yang paling tegar yang pernah
kutemui..
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum
manjamu terlihat di tidurmu yang panjang..
’’Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan
membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata
ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku
percaya begitu saja..
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga
sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia
dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku
mohon..
’’Ayah Sayang Bunda….’’